Sejarah Jembatan Pasar Lama atau Jembatan 9 November

sebuah jembatan yang dibangun Pada masa kolonial Belanda untuk menghubungkan daerah pusat perniagaan tempo dulu (Pasar Lama) dengan daerah Sungai Mesa atau Seberang Masjid Jembatan ini awalnya diberi nama Jembatan Coen, nama yang diambil untuk menghormati Gubernur JP Coen yang bertahta di Batavia sebagai pusat pemerintahan kolonial dan awalnya bangunan fisiknya masih berupa jembatan ulin
Pada saat Bandjarmasin ditetapkan sebagai ibukota Borneo maka para insinyur Belanda mengubah konstruksinya yang awalnya kayu ulin menjadi konstruksi beton. Belum diketahui pasti pada tanggal berapa jembatan ini pertama kali diresmikan. Namun walau usianya sudah tua fisik jembatan ini masih kuat menahan beban di atasnya. dan Jembatan pasar lama ini telah melalui tiga zaman, yaitu zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, sampai zaman kemerdekaan Republik Indonesia.




Pada masa kependudukan Jepang, terjadi penghancuran beberapa fasilitas umum oleh tentara Belanda dengan tujuan agar Jepang tidak dapat menguasainya. Jembatan Coen termasuk yang mengalami kerusakan. Kejadian ini membuat Jepang murka dan menangkap para pelaku yang terlibat termasuk Walikota Bandjarmasin saat itu Van der Muelen yang kemudian dieksekusi di atas Jembatan Coen.
Setelah peristiwa itu pemerintah Pendudukan Jepang memperbaiki dan memperlebar Jembatan Coen menjadi 8,6 meter dari sebelumnya hanya 7 meter yang digunakan untuk jalur pejalan kaki di atas jembatan tersebut.
Setelah era pendudukan Jepang berakhir, masyarakat sekitar sudah terbiasa dengan penyebutan Jembatan Pasar Lama. walau sebeanrnya jembatan ini memiliki nama lain yaitu jembatan 9 novenber yang digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada pahlaawan yang gugur pada pertempuran tanggal 9 november di banjarmasin .