JELAJAH KALIMANTAN , Banjarmasin - Jembatan Bromo ditahun 2020 mungkin masih relevan sebagai jembatan penyeberangan atau sebagai objek wisata di Banjarmasin namun bagaimana dengan tahun 2026 ( 6 tahun setelah peresmian nya ) , mari kita bahas :  

Sejarah & Tujuan Pembangunan

  • Dimulai pada Januari 2020, proyek ini digagas oleh Pemkot Banjarmasin dengan DED (Detail Engineering Design) telah selesai di tahun yang sama

  • Awalnya dianggarkan sekitar Rp20 miliar, namun kemudian meningkat hingga mencapai kisaran Rp47 miliar.

  • Anggaran tersebut dianggarkan dalam paket empat jembatan prioritas, di antaranya Antasan Bromo, Jembatan HKSN, dan lainnya.

Desain & Spesifikasi Teknis

  • Merupakan jembatan gantung sepanjang ±100–168 meter, dengan lebar hanya sekitar 2 meter, khusus untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua (sepeda motor).

  •  struktur pendekatan dibuat berputar seperti “roller coaster”

  • Di kedua sisi (oprit), dirancang juga Ruang Terbuka Hijau (RTH) lengkap dengan area parkir dan tempat bersantai.

  • Desain konstruksi menggunakan baja dan beton, bukan kayu, dengan pondasi pipa siphon PDAM diameter sekitar 152 mm

Manfaat dan Fungsi

  • Sangat membantu warga Pulau Bromo, yang sebelumnya hanya bisa diakses via transportasi sungai, dalam akses ke daratan.

  • Ekonomi lokal meningkat—misalnya pedagang di sekitar jembatan merasakan peningkatan penjualan karena kemudahan akses

  • Dianggap berpotensi menjadi destinasi wisata baru berkat desain futuristiknya dan pemandangan sungai di sekitarnya

Namun bagaimana dengan tahun 2026 , 6 tahun setelah peresmiannya ?

Jembatan Bromo mungkin bisa dikategorikan tidak lagi relevan baik secara fungsi maupun tujuan utama nya karena terlalu banyak memakan korban di oprit jembatan yang sangat menukik , tidak 1 2 3 tapi terlalu banyak media yang menuliskan banyak nya korban berjatuhan yang di turunan jembatan tersebut , yang pada hakikat nya jembatan itu bangun untuk kenyamanan , kemudahan dan transportasi yang membantu masyarakat sekitar 

Oke kita berterima kasih jembatan ini dibuat untuk memajukan ekonomi masyarakat sekitar namun 2026 nampaknya itu tidak lagi berfungsi karena nyatanya masyarakat sekitar tidak setiap hari tamasya ke sebuah jembatan , berbeda dengan gunung atau pantai yang masyarakat bisa setiap bulan atau minggu didatangi , dan jembatan hanya sekali atau 2 kali di lihat dan sudah selesai , dan sekarang Jembatan Bromo ini menjadi fungsi pada awalnya yaitu jembatan.

Karena terlalu di gagas untuk wisata jembatan ini kehilangan banyak aspek sebagai jembatan yaitu sebagai sarana transportasi , memperlancar arus lalu lintas , meningkatkan konektivitas antar wilayah dan masih banyak lagi , selain oprit yang curam jembatan ini juga memiliki lebar yg sempit yang memungkinkan 1 kendaraan roda 2 melewatinya dan sangat kesulitan saat berpapasan 2 motor sekaligus

Dan lagi sisi jembatan sempit ini tidak tertutup terlalu banyak lubang di sisi kanan kiri jembatan yang padahal jembatan ini tinggi , kemungkinan kena terpaan angin namun dibuat berlubang bagian kedua sisi , lantai nya pun tidak dibangun menggunakan besi bukan beton coran yang mana kalau hujan akan sangat licin dan membahayakan bahkan diatas ketinggian jembatan yang membuat bulu kuduk merinding 

Jembatan dibuat sempit yang artinya mau pemadam atau ambulans sudah dipastikan tiak bisa masuk , bagaimana kalau ada hal urgen di seberang sana , dan mobilisasi tidak bisa diakses , dari semua aspek yang seharusnya ada pada jembatan , dan sayangnya sepertinya  jembatan Bromo ini tidak direncanakan sebagai jembatan penghubung  melainkan sebagai tempat wisata dan warga sekitar hanya bisa dipaksa agar bisa menerima dengan apa yang ada 

Untuk melihat bagaimana visual jembatan Bromo ini , bisa disaksikan di video dibawah ini dan jangan lupa follow , like dan juga comment dan jangan lupa untuk ikuti medsos saya di Tiktok dan Instagram , terima kasih