![]() |
| Bundaran Hasanuddin , Saksi Bisu Kejayaan Kawasan Convensional di Banjarmasin |
JELAJAH KALIMANTAN , Banjarmasin - Saat ini kita sedang berada di Bundaran Hasanuddin atau bundaran air mancur, sebuah kawasan yang menjadi pusat percetakan terbesar yang ada di Banjarmasin
Seperti yang kita ketahui bersama banjarmasin adalah ibu kota provinsi yang bercokol lama dengan statusnya walau sekarang sudah berganti dengan kota yang lebih potensial menjadi ibukota, namun meski begitu tak bisa merubah wajah sejarah kota ini yang pernah memasuki era kejayaan nya , Banjarmasin pernah mendapat julukan Surabaya kecil , kota dagang dan menjadi kota tujuan serta idaman dimasa lalu
Meski sekarang yang kita lihat seperti sisa - sisa kejayaan gelar Ibukota nya , di kawasan ini adalah sebuah pusat percetakan terbesar di Banjarmasin kita sebut saja Gang Penatu yang didalam nya banyak bisnis percetakan dengan segala alat canggih nya di masa lalu , walau tidak serta merta mereka punah namun keberadaan nya tergerus oleh waktu , peradaban serta tekhnologi yang semakin maju.
Di kawasan bundaran ini juga merupakan puncak kejayaan transportasi karena merupakan tempat persinggahan transpotasi taxi kuning dan juga merupakan kawasan bisnis percetakan majalah , koran dan lain sebagainya.
Namun tidak ada yang abadi segala sesuatu akan kalah dengan kemajuan tekhnologi yang semakin maju , seperti bioskop - bioskop yang berjaya di Banjarmasin juga luluh lantak oleh tekhnologi yang terbarukan , TV - TV tabung juga semakin tersisih oleh kemajuan TV LED , Digital hingga smart TV dan masih banyak lagi contoh - contoh yang mana kejayaan tidak akan bertahan dan akan berganti dengan tekhnologi yang semakin maju dan canggih terlebih sekarang dimasa dijaman canggih AI yang merajai sistem tekhnologi terbarukan
Memang diakui kawasan Hasanuddin HM tidak lagi seramai dulu namun mereka yang bertahan dan masih kuat untuk bertahan masih membuka toko mereka hari demi hari di sepanjang jalan ini dan menatap kejayaan yang sudah tidak mampu untuk kembali lagi seperti dulu

0 Komentar