Bangunan ini awalnya dibangun pada tahun 1810 sebagai rumah milik saudagar berlian bernama Datu Jalal, yang memiliki arsitektur khas Banjar bubungan tinggi dengan bahan utama kayu ulin. Namun Setelah ditinggalkan oleh keturunan terakhirnya, ahli waris dari bangunan tersebut menjualnya kepada pemerintah pada tahun 1988, Pada awalnya bangunan difungsikan sebagai rumah budaya yang memberi gambaran tentang kehidupan suku Banjar
Kemudian, Gubernur Kalimantan Selatan waktu itu, Ir. H. M. Said, menginstruksikan agar rumah tersebut dijadikan Museum Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan (Waja Sampai Kaputing). dan setelah pengumpulan barang bersejarah rampung
Museum tersebut secara resmi diresmikan pada 10 November 1991, bertepatan dengan Hari Pahlawan
Adapun pemberian nama Museum ini adalah “Wasaka” yang merupakan singkatan dari “Waja Sampai Kaputing”, yang dalam bahasa Banjar berarti “Besi Sampai Rusak/Habis” — melambangkan semangat pantang menyerah pejuang Banjar dalam menghadapi penjajah
Walau ukurannya kecil, Museum Wasaka menyimpan sekitar 400 artefak bersejarah. Koleksi tersebut termasuk senjata tradisional (mandau, tombak), senapan angin kayu, pakaian barajah (dengan mantra pelindung), dokumen, peta pertempuran, jimat, kepala perahu, serta berbagai benda dari periode Perang Banjar, penjajahan Belanda, era Jepang, hingga revolusi fisik 1945–1949

0 Komentar