Sejarah Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah)
Pangeran Samudera adalah cucu dari Raja Daha, seorang raja Hindu di wilayah pedalaman Kalimantan Selatan (Kerajaan Negara Daha).
Nama asli Pangeran Samudera tidak banyak disebutkan secara eksplisit, namun dalam sejarah Kesultanan Banjar, ia dikenal luas sebagai pendiri Dinasti Islam di Kalimantan Selatan.
Ia memiliki garis keturunan bangsawan Dayak Ma'anyan yang bercampur dengan pengaruh Hindu dari Kerajaan Majapahit
Setelah Raja Daha wafat, tahta seharusnya diwariskan kepada Pangeran Samudera, namun pamannya merebut tahta secara paksa, menyebabkan pangeran Samudera harus melarikan diri.
Ia bersama beberapa pengikutnya melarikan diri ke daerah Bandarmasih (Banjarmasin) yang saat itu merupakan kawasan rawa-rawa dan belum berkembang.
Di sinilah Pangeran Samudera bertemu dengan patih masih yang saat itu menjadi pemimpin daerah banjarmasin / oloh masih dan kemudian membangun basis kekuatan.
Atas saran dari patih masih Pangeran Samudera kemudian meminta bantuan militer dari Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.
- Sebagai syarat bantuan, Pangeran Samudera dan para pengikutnya harus memeluk agama Islam.
- Ia pun menerima syarat tersebut dan kemudian resmi masuk Islam, lalu mengganti namanya menjadi Sultan Suriansyah.
- Dengan bantuan pasukan dari Demak dan dukungan masyarakat lokal, Pangeran Samudera berhasil merebut kembali kekuasaan dari pamannya.
- Ia mendirikan Kesultanan Banjar pada tahun 1526, menjadikannya sebagai kerajaan Islam pertama di Kalimantan.
- Ia kemudian menjadi Sultan pertama dengan gelar Sultan Suriansyah, memerintah dari ibu kota kerajaan yang saat itu berada di sekitar Sungai Kuin, Banjarmasin.
- Sultan Suriansyah membangun masjid pertama di Kalimantan Selatan, yaitu Masjid Sultan Suriansyah, yang hingga kini masih berdiri di kawasan Kuin, Banjarmasin.
- Kesultanan Banjar menjadi pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan, menggantikan sistem kerajaan Hindu yang lebih tua.
- Kesultanan ini bertahan hingga awal abad ke-20 sebelum dibubarkan secara resmi oleh Pemerintah Kolonial hindia Belanda
- Sultan Suriansyah wafat sekitar pertengahan abad ke-16 dan dimakamkan tidak jauh dari masjid peninggalannya di Kuin.
- Makam beliau hingga kini menjadi lokasi ziarah bersejarah dan tempat wisata religi.yang selalu ramai setiap hari dikunjungi


0 Komentar