Sumber Foto - Internet 

JELAJAH KALIMANTAN , Banjarmasin - Tahukah kamu kalau bukan karena ulah Belanda mungkin generasi kita msaih bisa melihat bangunan kesultanan di Banjarmasin dan mari kita ulas sedikit  tentang sejarah ketiadaan nya bangunan kesultanan di Banjarmasin. Jadi setelah melakukan kajian yang cukup dalam akhirnya rasa penasaran terjawab kenapa di Banajrmasin tidak ada satupun peninggalan kesultanan Banjar yang tersisa, kecuali Makam Sultan Suriansyah dan Mesjid Sultan Suriansyah 

Jadi berdasarkan catatan sejarah ,Belanda menghancurkan atau membiarkan hancurnya bangunan-bangunan Kesultanan Banjar. Tindakan ini berkaitan erat dengan strategi Kolonial Belanda dalam menghapus kekuasaan lokal dan memperkuat dominasi mereka di tanah Kalimantan.



Bangunan seperti keraton, balai pertemuan, dan istana adalah simbol kedaulatan dan legitimasi Kesultanan Banjar. Belanda menghancurkannya untuk memutus identitas politik dan budaya rakyat terhadap institusi kerajaan.

Jika simbol-simbol itu tetap berdiri, rakyat bisa terus melihatnya sebagai lambang harapan akan kebangkitan kembali kesultanan.

Setelah Perang Banjar (1859–1905), Belanda menghadapi perlawanan sengit dari tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari dan Demang Lehman. Menghancurkan pusat-pusat kekuasaan kesultanan adalah bagian dari upaya mencegah bangkitnya pusat-pusat perlawanan baru.

Misalnya, Keraton Kuin dan benteng-benteng pertahanan kesultanan sengaja dibumihanguskan agar tidak lagi digunakan sebagai basis militer atau tempat berkumpulnya rakyat.

Belanda begitu ingin mengganti sistem kerajaan dengan sistem pemerintahan kolonial (residen Oleh karena itu, bangunan kerajaan dianggap tidak lagi relevan, bahkan menjadi penghalang dalam pembangunan struktur kolonial yang baru.

Mereka kemudian membangun kantor-kantor pemerintah kolonial, sekolah Belanda, dan pos militer dan menggantikan tempat-tempat bersejarah kesultanan.Dengan di hancurkannya bangunan bersejarah belanda ingin menunjukkan siapa yang lebih berkuasa dan melemahkan harga diri rakyat setempat. Rakyat Banjar dibuat seolah-olah tidak punya sejarah besar sebelum kedatangan Belanda.

Dan sayang nya setelah dihancurkan bangunan kesultanan ini dibiarkan rusak dan tidak dirawat ,karena belanda memang tidak berniat melestarikan budaya lokal, karena fokus mereka adalah eksploitasi ekonomi dan penguatan kontrol politik.