![]() |
| Ilustrasi AI |
JELAJAH KALIMATAN , Banjarmasin - Jadi kalau bukan karena masuknya Belanda di Banjarmasin mungkin sampai dengan sekarang kita masih memegang asas Kesultanan
Kesultanan Banjar adalah kerajaan Islam yang berdiri sejak tahun 1526 di Kalimantan Selatan, dan menjadi salah satu pusat kekuasaan penting di pulau Kalimantan. Kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Namun pada pertengahan abad ke-19, kekuasaan Kesultanan Banjar mulai melemah hingga akhirnya dihapus secara resmi oleh Belanda pada tahun 1860.
Kesultanan Banjar Didirikan oleh Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) pada 1526 setelah mengalahkan Kerajaan Daha, Kesultanan Banjar menjadi pusat perniagaan yang strategis. Komoditas seperti lada, intan, dan rotan diperdagangkan dengan bangsa asing seperti Belanda, Inggris, Arab, dan Tionghoa. Kesultanan juga menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Pada abad ke-17, Belanda melalui VOC mulai berdagang di wilayah Banjar. Awalnya hubungan berjalan damai, tetapi Belanda secara bertahap mulai menekan kesultanan untuk memberikan hak monopoli dagang. Setelah VOC bubar, intervensi Belanda dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mereka mulai menanamkan pengaruh politik yang kuat dalam urusan dalam negeri kesultanan.
Setelah wafatnya Sultan Adam pada tahun 1857, terjadi perebutan takhta antara Pangeran Hidayatullah (didukung rakyat) dan Pangeran Tamjidillah (didukung Belanda). Belanda menunjuk Tamjidillah sebagai Sultan, memicu kemarahan rakyat dan bangsawan Banjar. Tahun 1859, pecahlah Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari.
Setelah merampas seluruh hak Kesultanan Banjarmasin, pihak kolonial mengadakan pengepungan dan pembersihan pasukan-pasukan Banjar pimpinan Demang Lehman, Pangeran Antaludin, dan Pangeran Aminullah. Mereka juga tak henti-hentinya mengirim serdadu-serdadu-nya ke semua wilayah yang dianggap masih berpotensi melakukan pemberontakan.
Pada Juni 1860, pihak Hindia Belanda mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjarmasin secara luas ke seluruh Kalimantan Selatan. Maka punahlah salah satu kesultanan terbesar di Kalimantan itu. Kesultanan Banjarmasin pada akhirnya dibagi oleh Hindia Nelanda menjadi tiga afdeling, yakni Kuwin, Martapura, dan Amuntai. Masing-masing dibagi ke dalam beberapa distrik, yang dikepalai oleh perutusan dari Batavia.
Dan sayang nya atas keruntuhan ini bahkan banyak bangunan bersejarah di era Kesultanan juga ikut hancur , sangat sedikit peninggalan kesultanan yang masih tersisa. Hanya tersisa sedikit rekam sejarah dan tersisa kisah masa lalu yang berharga bahwa begitu besar peradaban masyarakat Banjar dimulai dari Kesultanan namun berganti menjadi era Kolonialisme

0 Komentar