Potret Mba'e di dalam Museum Sultan Suriansyah

JELAJAH KALIMANTAN , Banjarmasin -  Mari kita mengulas sjarah berakhirnya perang banjar di kalimantan yang menandai berakhirnya kesultanan banjar di pulau kalimantan

Sekitar tahun 1859 Perang Banjar tercetus dimulai dari serangan rakyat ke tambang Oranje Nassau di Pengaron, setelah serangan itu banyak pekerja Belanda yang ditewaskan oleh pejuang rakyat , namun meski semangat juang yang tinggi pejuang banjar kalah dengan persenjataan lengkap belanda

Karena kekalahan rakyat Banjar dan kemarahan Belanda pada tahun 1860 Belanda secara resmi menghapus Kesultanan Banjar di Banjarmasin setelah campur tangan mereka dalam suksesi (mengangkat Pangeran Tamjidillah yang ditolak rakyat).

Dengan penghapusan ini, rakyat Banjar berperang tanpa lagi memiliki payung kerajaan resmi, sehingga perjuangan berubah menjadi perang rakyat, perlawanan rakyat pun semakin tersudut dan melemah setelah Pangeran Hidayatullah, yang dianggap pewaris sah tahta, ditangkap Belanda dan dibuang ke Jawa.


Pangeran Antasari, pemimpin perang rakyat, wafat karena sakit cacar.

Kehilangan dua tokoh besar ini membuat koordinasi perlawanan melemah, meski semangat rakyat belum sepenuhnya padam.

Setelah 1862, perlawanan dilanjutkan oleh tokoh-tokoh lokal:
  • Gusti Muhammad Seman (putra Pangeran Antasari)
  • Tumenggung Surapati, Tumenggung Dambung, panglima batur dan panglima lainnya.
Basis perjuangan bergeser ke Hulu Sungai, pedalaman Meratus, dan daerah Barito., Bentuk perlawanan lebih banyak berupa gerilya daripada perang terbuka.

Setelah wafatnya pangeran antasari , belanda mulai memperbesar penjagaan dan taktik buruk dilancarkan, Belanda membangun benteng-benteng militer di sepanjang Sungai Barito dan wilayah pedalaman.

Belanda juga menggunakan taktik adu domba antar bangsawan Banjar, serta politik devide et impera terhadap kepala-kepala suku Dayak, menambah Senjata modern (meriam, senapan, kapal perang uap) membuat rakyat makin terdesak.

Kemudian pada tahun 1905 Gugurnya Gusti Muhammad Seman di Barito menandai berakhirnya perlawanan besar rakyat Banjar. Setelah itu, perlawanan hanya tersisa dalam bentuk kecil-kecilan, lebih bersifat lokal, dan sulit lagi memobilisasi kekuatan besar.

Sejak saat itu Belanda menguasai penuh wilayah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah.