JELAJAH KALIMANTAN , Banjarmasin - Tahukah kalian bahwa jalan darat atau jalan aspal yang kita nikmati hari ini adalah dari buah fikir nya kaum Kolonial Belanda di Banjarmasin , jadi Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, akses utama ke Banjarmasin adalah melalui jalur sungai, karena struktur geografis Kalimantan yang dikelilingi rawa, sungai, dan hutan lebat. Namun, demi kepentingan logistik, komunikasi militer, dan perdagangan, Belanda mulai membangun jalan darat untuk menghubungkan Banjarmasin dengan daerah-daerah pedalaman Kalimantan Selatan.

Dan Kota Banjarmasin pertama kali mengenal modernisasi sejak zaman Kesultanan Banjar pada tahun 1898. Tahun itu, baru dimulai pembangunan jalan di wilayah tengah kota yang sekarang bernama Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Nol Kilometer atau dulunya kawasan Benteng Tatas.

Tahun itu, merupakan tahun yang dinamai transisinya budaya Banjar dari sungai ke darat, jadi pada dahulu Masyarakat suku Banjar  identik dengan aktivitas di sungainya, dari mulai mandi, masak, transaksi jual beli, dan aktivitas lainnya yang menggunakan jukung atau perahu.

Dan sejak kolonial mengivasi Kota Banjarmasin , Budaya Eropa semakin berkembang pada tahun 1920 dimulai dari pembangunan jalan darat , renovasi pasar , budaya hiburan ala Belanda , masuk nya teknologi , alat trasfortasi , kantor post dan masih banyak lagi dan  Seiring panjangnya pembangunan jalan darat, mobil pun sudah mulai diperkenalkan di pusat Kota Banjarmasin yang digunakan untuk operasional kolonial Belanda.